Latest Tweets:

Aku Ingin Sapu Tangan Toskaku!

Sebuah papan catur besar bermotif kotak-kotak tersimpan di depan jendela kecil kamarmu. Aku tahu kamu sangat menyayangi papan catur itu karena salah satu prajurit, kuda dan bentengmu telah hilang, sedangkan papan kotak kotak hitam putihmu tetap bersih tak berdebu. Nirmala, suci tak ternoda. Dengan angkuhnya kau pajang kekotak-kotakan dan kehitam putihanmu. Ah, seandainya kau tahu bahwa hidup lebih dari hitam dan putih, tetapi juga abu-abu. Bahkan biru.

Begitu aku masuk ke pelataran rumahmu, terdapatlah hamparan bunga berwarna putih. Seandainya mereka berwarna hitam, dapat dipastikan kau akan mengkotak-kotakannya sesuai kodrat mereka—hitam atau putih. Bagaimana dengan bunga biru kesukaanku? Ah, apatah pedulimu tentang pendapatku. Toh hidupmu bisa terus berlanjut tanpa opiniku. Biarlah lidahku kelu, biarlah kaku.

Tirai kotak kotakmu tidak berwarna hitam atau putih, tetapi ungu. Gradasi kemisteriusan dan ketertutupan. Gambaran ketegaran di balik keangkuhan. Rupanya kau mengenal warna lain selain hitam dan putih! Tapi sayang itu bukan biru. Ah, manalah kau mengerti keindahan warna biru? Biru, laut dan langit bahkan sepakat bahwa biru warna yang sangat indah! Tetapi, aku ingat bahwa hidupmu adalah hitam putih dengan gradasi ungu. Manalah kau sadar keberadaan biru?

Ingatkah kamu saat kuketuk pintu rumahmu sambil membawa buah buahan berwarna-warni? Berharap kau akan mengajakku masuk dan memberiku segelas air. Yang kuingat, kau menanyakan buah hitam, putih atau ungu. Juga buah berbentuk kotak. Ah, manalah aku tahu benda apa itu? Itu kali pertamaku mengenal hitam, putih, ungu. Juga kotak. Yang kuingat, kau meninggalkanku sendirian di depan rumahmu tanpa tahu betapa panjangnya perjalanan ke toko buah dari rumahku. Kau tidak menerimanya hanya karena buah itu kuning. Hanya karena buah itu KUNING! Banal rasanya memohon air putih di ruang tamumu, terlebih mengiba anggur putih kesayanganmu. Dan aku kehilangan sapu tangan toskaku.

Kupertanyakan lingkaran hitam-putih-ungu yang merasuk jiwamu—mengendalikan hidupmu! Mari kita bicarakan kotak saja, ujarmu. Ah, apalah peduliku, jika memang empat garis sama panjang yang tersusun dengan monoton memang selalu menggelitiki hatimu. Untuk apa mengkotak-kotakan hidup? Bukankah tetua mengajarkan kita untuk memanusiakan manusia, bukan mengkotak-kotakkan mereka? Leluhur mengajarkan untuk saling mengenal satu sama lain, bukan mengkotak-kotakkan pedalaman mereka!

Ah, kau masih membersihkan papan catur kesayanganmu itu. Terlihat sirup anggur di meja kecil di sisi tempat tidurmu. Ah, itu dia sapu tangan toskaku di tangan kananmu! warnanya pudar, mulai mengabu-abu. Mungkin sebentar lagi menghitam, seperti apa yang kau mau.

Ah, haruskah aku menghitam-putihkan diriku juga? Atau ungu?